Minggu, 24 Januari 2010

Pendidikan Seks Remaja

Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu hal yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk hidup, karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kelestarian keturunannya.

Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri (Handbook of Adolecent psychology, 1980). Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang tepat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.

Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau internet.

Memasuki Milenium baru ini sudah selayaknya bila orang tua dan kaum pendidik bersikap lebih tanggap dalam menjaga dan mendidik anak dan remaja agar ekstra berhati-hati terhadap gejala-gejala sosial, terutama yang berkaitan dengan masalah seksual, yang berlangsung saat ini. Seiring perkembangan yang terjadi sudah saatnya pemberian penerangan dan pengetahuan masalah seksualitas pada anak dan remaja ditingkatkan. Pandangan sebagian besar masyarakat yang menganggap seksualitas merupakan suatu hal yang alamiah, yang nantinya akan diketahui dengan sendirinya setelah mereka menikah sehingga dianggap suatu hal tabu untuk dibicarakan secara terbuka, nampaknya secara perlahan-lahan harus diubah. Sudah saatnya pandangan semacam ini harus diluruskan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan bagi anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Remaja yang hamil di luar nikah, aborsi, dan penyakit kelamin adalah contoh dari beberapa kenyataan pahit yang sering terjadi pada remaja sebagai akibat pemahaman yang keliru mengenai seksualitas.(1)


2.1 Pengertian Remaja(2)

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.

1. Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun.

2. Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.

3. Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.

Kesimpulannya remaja adalah seseorang yang beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dengan batasan usia dari usia 10 tahun sampai dengan 21 tahun dan belum menikah.

2.2 Pendidikan Seksual (1),(3),(4)

Dalam pendidikan seks dapat dibedakan antara sex instruction dan education in seksuality.

· Sex Intruction

Ialah penerangan mengenai anatomi dan biologi dari sistim reproduksi, termasuk pembinaan keluarga dan metode-metode kontrasepsi.

· Education in sexuality

Meliputi bidang-bidang etik, moral fisiologi, ekonomi dan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang dibutuhkan sesorang untuk dapat memahami sebagai individu seksual, serta untuk mengadakan hubungan interpersonal yang baik.

Pada dasarnya pendidikan seks meliputi bidang :

1. Biologi dan fisiologi, yaitu mengenai fungsi reproduktif

2. Etik, yaitu menyangkut kebahagian itu sendiri

3. Moral, yang mengenai hubungan dengan orang lain. Misalnya dengan partnernya dan dengan anak- anaknya.

4. Sosiologi, mengenai pembentukan keluarga.

Sex intruction tanpa education in sexuality dapat menyebabkan promiscuity serta hubungan-hubungan seks yang tidak bertanggung jawab. Memberikan pendidikan seks pada remaja, maksudnya membimbing dan menjelaskan tentang perubahan fungsi organ seksual sebagai tahapan yang harus dilalui dalam kehidupan manusia. Cara- cara yang dapat digunakan misalnya dengan mengajak berdiskusi masalah seks yang ingin diketahui remaja tersebut.

Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak (dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991).

Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.

Ada 6 prinsip dasar yang harus termuat dalam pendidikan seks, antara lain;

1. Perkembangan manusia; anatomi, reproduksi dan fisiologi.

2. Hubungan antar manusia; keluarga, teman, pacaran, dan perkawinan.

3. Kemampuan personal; nilai, pengambilan keputusan, komunikasi, dan negosiasi.

4. Perilaku seksual; abstinence (puasa seks) dan perilaku seks lain.

5. Kesehatan seksual, meliputi: kontrasepsi, pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS), AIDS, aborsi, dan kekerasan seksual.

6. Budaya dan masyarakat; peran gender, seksualitas dan agama.

Dengan adanya pendidikan seks bagi remaja, diharapkan remaja dapat menempatkan seks pada perspektif yang tepat, dan mencoba mengubah anggapan negatif tentang seks.

2.3 Tujuan Pendidikan Seksual(1),(5)

Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

Menurut Kartono Mohamad pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab (dalam Diskusi Panel Islam Dan Pendidikan Seks Bagi Remaja, 1991). Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan (Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987)

Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut :

1. Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.

2. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggungjawab)

3. Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi.

4. Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.

5. Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.

6. Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.

7. Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.

8. Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.

Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu dan pada waktu yang tertentu saja.

2.4 Pendidikan Seks pada Remaja(5)

Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.

Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono (Psikologi Remaja,1994) adalah sebagai berikut :

1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu.

2. Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)

3. Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.

4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (contoh: VCD, buku stensilan, foto, majalah, dan internet) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.

5. Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.

Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.
Pada dasarnya pendidikan seks untuk anak dan remaja memang perlu. Peran orang tualah yang dituntut lebih dominan untuk memperkenalkan sesuai dengan usia dan perkembangan si anak hingga beranjak dewasa.Memberikan pengetahuan pada remaja tentang resiko seks bebas, baik secara psikologis maupun emosional, serta sosial, juga akan dapat membantu agar terhindar dari pelanggaran norma yang berlaku.

2.5 Kapan Pendidikan Seks Itu Harus Diberikan (3),(4)

Pada International Conference of Sex Education and Family Planning tahun 1962 dicapai kesepakatan bahwa tujuan dari pendidikan seks adalah untuk menghasilkan manusia-manusia dewasa yang dapat menjalankan kehidupan yang bahagia karena dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungannya, serta bertanggung jawab terhadap dirinya dan terhadap orang-orang lain.

Pada zaman ini, penyesuaian dalam masyarakat sinonim dengan suatu perkawinan monogami yang berbahagia atau suatu kehidupan bahagia tanpa perkawinan dan anak. Yang kurang pentingnya dari tujuan tersebut di atas adalah berkurangnya legitimasi, VD dan kesulitan-kesulitan dalam perkawinan yang dianggap disebabkan kesulitan seksual. Bila tujuan-tujuan ini dapat dicapai maka orang akan dapat menghargai kepuasan yang didapatkan dari hubungan seks yang berdasarkan cinta dan perhatian terhadap orang lain, dan bukannya semata-mata pemuasan nafsu seks belaka.

Dalam suasanan demikian dapat dibina keluarga yang utuh serta penuh cinta kasih dan penghargaan, diman dapat dididik anak-anak yang sehat dan berbahagia. Dalam pendidikan seks dapat dibedakan antara sex instruction dan education in sexuality.

Yang dimaksud dengan sex instruction ialah penerangan mengenai anatomi dan biologi dari reproduksi, termasuk pembinaan keluarga dan metode-metode kontrasepsi. Sedangkan education in sexuality meliputi bidang-bidang etik, moral fisiologi, ekonomi dan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang dibutuhkan seseorang untuk dapat memahami dirinya sendiri sebagai individu seksual, serta untuk mengadakan hubungan interpersonal yang baik.

Maka pada dasarnya pendidikan seks itu meliputi bidang-bidang :

1. Biologi dan fisiologi, yitu mengenai fungsi reproduktif.

2. Etik, yaitu yang menyangkut kebahagiaan orang itu sendiri.

3. Moral, yang mengenai hubungan dengan orang-orang lain misalnya dengan partnernya dan dengan anak-anaknya.

4. Sosiologi, mengenai pembentukkan keluarga.

Di sekolah-sekolah, yang dapat diberikan ialah sex instruction disertai pendidikan mengenai moral, etik, kejujuran, tanggung jawab, perlunya mempertimbangkan perasaan orang lain dalam tiap-tiap tindakan, keuntungan dari self control dan self dicipline.

Ottensen-Jensen dalam bukunya : “Handbook on sex instruction” membuat rencana pendidikan seks menurut golongan-golongan umur yaitu :

1. 7-10 tahun

Dimulai dengan memberikan fakta-fakta tentang reproduksi pada umumnya yaitu fertilisasi, perkawinan serta persalinan pada binatang-binatang (ayam/kambing). Kemudian tentang konsepsi pada manusia, bersatunya sel telur dari ibu dengan sel mani dari ayah.

2. 11-13 tahun

Diberikan embriologi alat kelamin dalam, anatomi dan terjadinya tanda-tanda kelamin sekunder, menstruasi, uraian yang mendetail dari konsepsi, pertumbuhan fetus dan persalinan. Juga tentang homosexuality, exhibitionisme, pedophilia serta perkosaan. Hal-hal ini sebaiknya dijelaskan hanya bila mereka menanyakannya. Harus diberikan nasihat pada anak-anak supaya jangan mau ikut dengan orang yang tidak dikenal karena kemungkinan penculikan. Mengenai seks yang abnormal tidak perlu dijelaskan. Masturbasi dalam masa akil baligh adalah biasa dan akan berkurang/menghilang bila dewasa. Keterangan-keterangan tersebut di atas lebih baik digambar di papan tulis daripada dipertunjukan dengan slides. Pertunjukan film hanya diberikan bila tidak ada guru yang dipercaya oleh murid-murid untuik memberikan penerangan secara langsung. Pada murid-murid diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang boleh ditulis secara anonim.

3. 14-16 tahun

Diberikan diskusi tentang sexual intercourse, promiscuity, illegitimasi dan VD. Pada taraf ini diterangkan aspek sosial dari hubungan seks yaitu tanggung jawab terhadap partnernya, terhadap anak yang mungkin dilahirkan dan terhadap lingkungannya (masyarakat). Hubungan seks sebagai suatu tindakan yang berdasarkan perasaan saling mencintai dan saling menghargai harus ditekankan. Diskusi mengenai rumah tangga dan keluarga sebagai dasar dari suatu masyarakat, akan menjadi bahan pertimbangan dalam menilai premarital intercourse. Banyak bukti menunjukkan bahwa suatu keluarga yang bahagia ialah tempat yang terbaik untuk mendidik anak. Pada umur ini juga harus ditekankan pada mereka bahwa sexual intercourse berarti juga kesediaan untuk menerima tanggung jawab dari tindakan itu, yaitu terhadap manusia baru yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tanggung jawab ini memerlukan kematangan emosionil, pekerjaan fisik serta tanggung jawab finansial.

Adapun pendapat lain yang mengatakan bahwa pendidikan seks harus sudah diberikan pada anak-anak usia 3-4 tahun. Mereka akan memperhatikan badannya sendiri dan orang-orang sekitar dan lalu mereka akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti :

§ Ibu dan ayah dalam beberapa hal berbeda jasmaninya

§ Mulai menanyakan genitalianya

§ Dari mana bayi datang

§ Dari mana bayi keluar waktu lahir

§ Mengapa wanita punya buah dada

Mereka akan bertanya hal-hal seperti tersebut diatas. Dan orang tua atau keluarganya jangan menangguhkan jawabannya.

Dari hasil-hasil research yang dilakukan di Rusia dan Swedia dapoat diambil kesimpulan bahwa pendidikan sex dan fungsi reproduktif sebaiknya diberikan juga dirumah oleh orang tua disertai dengan contoh yang baik mengenai cinta dan saling menghargai antara kedua orang tua.

2.6 Mengapa Diperlukan Pendidikan Seks

Pada suatu survey di sekolah menengah yang baru-baru ini dilakukan di USA, Mc Carry mendapatkan bahwa kebanyakan dari murid-murid tersebutkan melontarkan kritik terhadap orang tua karena tidak pernah memberikan penerangan seks kepada anak-anaknya. Dua per tiga dari mereka sama sekali tidak mendapatkan penerangan apa-apa, sedangkan sisanya hanya mendapatkan penerangan sekedarnya.

Pengetahuan anak-anak muda tentang seks biasanya didapatkan dari kawan-kawan seumur melalui lelucon-lelucon yang kotor dan cabul, sehingga sering timbul anggapan yang salah atau emosi yang negatif.

Banyak orang yang terhambat mengetahui fakta-fakta sebenarnya tentang human sexuality, sehingga tak dapat menolong mereka pada masa-masa permulaan dari penyesuaian dalam kehidupan seks. Sebagai contohnya dapat dikemukakan bahwa 2/3 dari anak laki-laki ternyata telah mengetahui tentang hubungan seks sebelum orang tua mereka menerangkan. Pada survey lain juga ditemukan bahwa 70% wanita mendapatkan keterangan (terutama dari ibunya) bahwa seks itu kotor.

Mengapa sampai didapatkan hal-hal seperti di atas, keterangannya sebetulnya mudah. Para orang tua sendiri juga dipenuhi perasaan malu dan bersalah mengenai seks, sehingga mereka pun tidak mempunyai pegangan dalam hal sexuality dan sexual behaviour.

Persoalannya sekarang ialah bagaimana kita dapat mendidik orang-orang muda ke arah sexual attitudes yang sehat, bilamana masyarakat dewasa pun belum mempunyai persesuaian paham dalam hal ini.

Orang-orang awam dan bahkan ahli-ahli ilmu pengetahuan, biasanya segan untuk menerima tanpa prasangka kenyataan-kenyataan yang didapatkan secara ilmiah dalam bidang human sexuality.

Pendapat-pendapat mengenai pendidikan seksnya berbeda-beda, mulai dari mereka yang menganjurkan untuk sama sekali tidak mencari pengalaman-pengalaman seks, sampai kepada mereka yang menganjurkan kebebasan seks yang seluas-luasnya.

Golongan yang menentang pendidikan seks mengharapkan bahwa dengan mengabaikannya, maka dengan sendirinya persoalan seks akan hilang. Kenyataannya, akibat dari pandangan yang demikian malahan timbul konflik seksual, perkawinan-perkawinan yang tidak berbahagia, abortus kriminalis dan sebagainya.

Ada pula yang mengajarkan bahwa seks adalah karunia dari Tuhan yang hanya boleh dilakukan untuk prokreasi. Menurut pandangan golongan ini, sexuality untuk tujuan-tujuan lainnya adalah immoral, rendah dan hanya menunjukkan nafsu kebinatangan. Mereka menolak kenyataan bahwa dorongan seks yang biologis dari seorang manusia harus mendapatkan penyaluran.

Pendapat lainnya ialah bahwa pendidikan seks dapat diberikan dengan hanya mengemukakan hal-hal nyata. Dalam hal ini seks sama sekali ditelanjangi dari sifat-sifatnya yang tertutup dan suci serta mengabaikan faktor emosi.

Menurut tanggapan golongan ini, karena seks adalah dorongan fisik maka harus dikemukakan dengan memberikan data-data fisiologis tanpa memperhatikan kenyataan bahwa aktivitas seksual lebih berharga bila dilakukan oleh orang-orang yang saling mencintai serta menghargai satu dengan yang lainnya.

Yang paling ekstrim ialah golongan yang menghendaki kebebasan seks yang seluas-luasnya bagi setiap orang, dengan syarat satu-satunya jangan menyakiti atau mengganggu orang lain. Pandangan ini tentunya menentang nilai-nilai keperawanan, monogami, serta norma-norma seks yang sudah diterima oleh masyarakat.

Aktivitas seksual dianggap hanyalah suatu permainan menyenangkan yang tidak perlu dihambat oleh perasaan malu atau bersalah, tradisi serta moralitas.

Sampai batas tertentu pendapat di atas ada baiknya, karena kebanyakan larangan-larangan yang ada sebetulnya tidak beralasan, malahan hanya menghambat pertumbuhan emosional serta kebahagiaan seseorang.

Tetapi karena manusia hidupnya selalu bermasyarakat, maka tentunya seseorang tak dapat menolak secara terang-terangan semua kode-kode etik dan moral yang sudah ada dalam masyarakatnya. Karena itu lebih bijaksana untuk mengambil sikap keluar yang mendekati atau seperti yang diharapkan oleh lingkungannya.

Kesimpulan yang dapat diambil dari hal-hal yang telah dikemukakan di atas agaknya adalah bersifat kompromistis serta selektif terhadap berbagai-bagai filsafat mengenai pendidikan seks. Kebutuhan seksual harus mendapatkan penyaluran, penerangan yang lengkap tentang segi fisiologis dan psikologis dalam lingkungan masyarakatnya harus dimengerti dan dihadapi secara realistis. Kebebasan yang relatif dalam ekspresi seksual dapat dibenarkan karena adanya perbedaan individual.

Faktor-faktor emosional dan kepribadian harus diperhatikan bila ingin mencapai kepuasan seks serta kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Kita tidak dapat mengharapkan kaum pria serta wanita yang normal untuk mengabaikan kebutuhan serta dorongan seksnya. Memang terdapat perbedaan pandangan dalam masyarakat serta kebudayaan yang berlainan, tetapi hampir tak ada yang menyangkal bahwa kebutuhan sex itu ada dan harus disalurkan.

Dengan menolak penyaluran yang sehat dari kebutuhan-kebutuhan seks, kita sesungguhnya hanyalah mengalihkannya kepada keadaan neurosis, psikosis, gangguan kepribadian, perasaan bersalah dan sexual behaviour yang abnormal.

Albert Ellis dalam penyelidikannya mengenai pandangan masyarakat Amerika umumnya terhadap seks, cinta, perkawinan dan hubungan keluarga, mendapatkan kesimpulan bahwa pendidikan seks yang inadekuat mengakibatkan represi yang neurotis serta hambatan dalam ekspresi seksual yang normal.

Kebanyakan orang tua menyangka bila anak-anaknya tidak mempunyai pengetahuan tentang seks, mereka akan menghindarinya dan akan menjalankan kehidupan seks yang tidak tercela. Kenyataan sesungguhnya adalah kebalikannya.

Sebagai contoh misalnya : para orang tua sering tak mau memberikan penerangan tentang kontrasepsi dan VD atau hanya memberitahukan segi yang memalukan dari kehamilan di luar perkawinan serta bahaya VD dengan harapan dapat mencegah premarital coitus.

Tetapi survey dari Kinsey menyatakan bahwa hanya 44% dari wanita yang tidak kawin menghindari hubungan seks di sekolah maupun di rumah, dan bahwa ibunya tidak dapat atau tidak mau memberikan penerangan kepada anak-anaknya.

Satu dari enam pengantin wanita USA telah hamil sebelum menikah. Anehnya, kebanyakan dari kehamilan yang tidak diinginkan ini terjadi pada gadis-gadis yang taat kepada agamanya. Agaknya, meskipun ada itikad untuk tidak berbuat dosa, akhirnya mereka terbawa oleh arus emosinya sehingga melakukan hubungan seks.

WHO menyatakan bahwa yang menjadi penyebab dari sexual misadventures bukanlah pengetahuan, melainkan ketidaktahuan dalam hal seks.

Para orang tua pun mungkin tidak cukup pengetahuannya tentang seks, tetapi apa yang mereka ketahui hendaknya diterangkan kepada anak-anaknya secara jujur dan terbuka.

Sangat disayangkan bahwa kebanyakan para dokter segan untuk menanyakan atau membicarakan tentang seks. Pada umumnya pengetahuan mereka hanya terbatas pada proses reproduktif. Disamping itu, banyak pemuka-pemuka agama yang keras yang berhasil dengan baik mengindoktrinasikan kepada pengikut-pengikutnya bahwa seks adalah kotor dan bersifat kebinatangan serta harus dianggap sebagai suatu kebutuhan yang buruk. Sikap ini jelas sekali terlihat pada zaman Victorian, di mana seorang wanita baik-baik tidak akan berani mengharapkan kepuasan dalam hubungan seks. Wanita dianggap hanya memenuhi kewajiban terhadap suaminya.

Orang Jahudi zaman dahulu menganggap wanita tidak lebih dari hewan-hewan miliknya, seorang pria diperbolehkan mempunyai banyak istri atau gundik (poligami). Kemudian, karena sebagian kaum pria tidak bisa mendapatkan istri, maka secara berangsur-angsur dibuatlah peraturan-peraturan pembagian wanita yang lebih seimbang, sehingga akhirnya timbul monogami. Meskipun demikian, kedudukan serta hak-hak seorang wanita tidak mengalami perbaikan. Seorang pria dapat dengan bebas masuk ke kamar tidur pelayan-pelayan wanita, tetapi bila seorang istri melakukan perzinahan ia akan dihukum dengan dilempari batu sampai mati.

Sampai sekarang pun masih didapatkan suatu double standard dari moralitas yang berlaku bagi pria dan bagi wanita. Seorang wanita diharapkan masih suci sebelum menikah, sedang pria boleh melakukan premarital sex bahkan diharapkan sudah berpengalaman.

Kebanyakan interpretasi kuno dari hukum-hukum Nabi Musa didasarkan pada kebutuhan mempertahankan suatu suku yang besar dan kuat. Karena itu seorang pria tidak boleh membuang-buang spermanya. Coitus hanya boleh dilakukan dengan wanita yang sudah melewati hari ke-12 dari siklus menstruasinya, karena hari-hari sebelumnya dianggap tidak subur. Homosexuality antara pria dihukum dengan keras. Sedangkan lesbianisme tidak, karena tidak ada sperma yang terbuang.

Dalam genesis diceritakan tentang Onan yang diharuskan mengawini janda saudaranya Er. Tetapi karena anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan ini akan memakai nama Er., maka Onan menghindari konsepsi dengan melakukan coitus interruptus. Karena perbuatannya itu ia dihukum mati oleh Tuhan. Kemudian untuk waktu yang lama coitus interruptus dan onani disamakan dan dianggap sebagai dosa.

Dalam kitab Perjanjian Lama (The Old Testament), kaum wanita selalu dipersalahkan. Misalnya pada peristiwa Adam dan Hawa serta peristiwa Lot dengan puteri-puterinya dimana meeka dipersalahkan telah memberikan minuman keras sehingga Lot mabuk dan melakukan hubungan seks dengan mereka (incest). Dalam kenyataannya, bila seorang pria terlalu banyak minum alkohol ia tidak dapat melakukan hubungan seks.

St. Paul dalam membicarakan perihal sex menganjurkan perkawinan untuk menghindari perzinahan, tetapi berpantang seks (sexual abstinence) tetap dianggap lebih baik. Menurut St. Agustinus hubungan seks tujuannya hanya untuk mendapatkan anak. Beliau menghukum keras hubungan seks premarital extramarital, juga masturbasi, homosexuality dan bestiality.

Untuk Gereja Katolik, celibasi dan keperawanan dianggap tingkat yang tertinggi dalam kehidupan. Dalam theologi Judeo-Christian hubungan seks dalam perkawinan hanya diperbolehkan untuk prokreasi, untuk tujuan-tujuan lainnya dianggap dosa.

Dari riset di Inggris mengenai premarital seks, ternyata agama tidak memegang peranan. Kaum atheist mempunyai pengalaman seks lebih sedikit daripada mereka yang beragama Protestan atau Katolik.

Karena pada anak-anak muda diajarkan bahwa seks adalah dosa maka mereka akan mempunyai perasaan bersalah bila mengadakan hubungan seks. Hal ini dapat menyebabkan perasaan nyeri pada persetubuhan (dyspareunia), frigiditas, impotensi dan ejakulasi prematur. Dalam masa berbulan madu, seringkali seorang istri mengharapkan bimbingan dalam hubungan seks dari suaminya, bilamana si suami juga tidak mempunyai pengetahuan maka akan timbul kekecewaan dan perasaan tidak puas pada kedua belah pihak.

Untuk menentukan mana yang dianggap sexual behaviour yang normal dan mana yang dianggap abnormal memang sulit, karena adanya perbedaan-perbedaan lingkungan serta kebudayaan. Misalnya saja mengenai coitus dengan posisi lain dari pada suami di atas istri masih sering dianggap abnormal, demikian juga masturbasi petting, oral genital contact.

Di negara-negara Arab masturbasi jarang dikerjakan, homosexuality dianggap lebih diterima. Karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut maka tiap orang harus dapat menentukan sendiri sexual behaviour yang dianggapnya cukup rasional serta bertanggung jawab terhadap partnernya dan masyarakat umumnya.

Survey dari A.H. Maslow menyatakan bahwa seorang wanita yang bersifat dominan lebih sering melakukan masturbasi, premarital seks, menjadi sukarelawati untuk sex research studies serta tidak malu-malu untuk pemeriksaan ginekologis.

Perkawinan yang memuaskan ialah di mana suami sama atau sedikit lebih dominan dari istrinya. Menurut H.L. Locke, 90% dari wanita dengan perkawinan yang bahagia menikmati seks, sedangkan dari golongan wanita yang bercerai hanya 50%.

Banyak wanita yang mengalami premenstrual tension dan dysmenorrhoe berasal dari keluarga yang tidak harmonis dan mendapat penerangan seks yang buruk dari ibunya.

2.7 Sebab Dan Akibat Pendidikan Seks Tidak Diberikan Kepada Masyarakat

Sebab pendidikan seks belum dianggap penting oleh masyarakat diantaranya dikarenakan :

1. Orang tua malu dan bersalah berbicara mengenai seks.

2. Ada pendapat yang berbeda mengenai pendidikan seks diantaranya :

- Jangan mencari pengalaman seks, dengan harapan bahwa persoalan mengenai seks akan hilang tetapi akibatnya timbul konflik sosial, perkawinan tidak bahagia, abortus kriminalis, dan sebagainya.

- Menganjurkan kebebasan seks yang seluas-luasnya, tetapi ini berarti menentang nilai-nilai keperawanan, monogami, norma-norma seks dan agama yang sudah diterima masyarakat.

Pendapat-pendapat seperti diatas yang menjadikan bahwa suatu pendidikan seks atau suatu pembicaraan mengenai seks dianggap tabu bahkan berdosa oleh sebagian masyarakat.

Dengan tidak adanya atau tidak disampaikannya pendidikan seks sejak dini akan berpengaruh terhadap perilaku seks-nya. Mereka tidak akan mengerti mengenai tanggung jawab, kejujuran, keuntungan self control, self dicipline dan antisipasi, serta pertimbangan terhadap perasaan orang lain. Orang-orang yang tidak cukup dewasa dan tidak bertanggung jawab tidak akan mungkin membentuk perkawinan dan pembentukan keluarga yang bahagia.

2.8 Peran bidan dalam memberikan pendidikan seks untuk remaja (6)

1. Pengembangan model pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi remaja. Tujuannya adalah memberikan bekal pengetahuan pada remaja atas kesehatan reproduksi dan seksual secara benar, sehingga mereka dapat mengambil keputusan dalam menjalani hak-hak kesehatan reproduksi dan seksualnya secara sehat dan bertanggungjawab.

2. Jika terjadi kasus PMS pada remaja, maka bidan harus mengobatinya sesuai dengan diagnosa

§ Suluh penderita/KIE

§ Untuk sementara tidak melakukan hubungan seks

§ Sediakan dan anjurkan pemakaian kondom

§ Kontrol ulang pada hari ke-7 jika tidak ada perbaikan

Kemudian melakukan konseling yang berisi:

§ Untuk sementara tidak melakukan hubungan seks, sampai sembuh

§ Anjuran pemakaian kondom

§ Kontrol ulang bila obat habis atau keluhan bertambah

3. Jika terjadi kehamilan pada remaja maka asuhan antenatal yang diberikan adalah:

§ TTD

§ TT

§ Nasehat & Konseling (sesuai umur kehamilan):

§ Penanganan gangguan yang ditemukan/rujukan

4. Berikan konseling tentang kesehatan pada remaja yang berisi :

§ Kesehatan Repsoduksi Remaja

§ Perilaku hidup sehat bagi remaja

§ Persiapan berkeluarga

§ Konseling untuk mengatasi masalah yang dihadapi → bila tidak dapat ditangani → dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai

5. Pada remaja yang perilaku seksualnya aktif, maka bidan harus melakukan :

· Sama dengan Bagan Alur Pelayanan Antenatal

· Konseling yang berkaitan dengan kehamilan dil luar nikah

- Anjuran untuk mempertahankan kehamilan

- Membantu mengatasi masalah yang timbul akibat kehamilannya:

Ø Percobaan pengguguran kandungan

Ø Pengaturan kelangsungan pendidikan

Ø Hubungan dengan pasangan seksual

Ø Hubungan dengan keluarga

Ø Persiapan menjadi orang tua

Referensi:

1. http://www.ilmupsikologi.com/?p=20 posted: April 16th, 2008 by admin

2. http://ceria.bkkbn.go.id/referensi/substansi/index

3. Sulistyo, Rono. 1975. Pendidikan Seks. Bandung : Elistar Offset Eleman.

4. Dianawati, Ajen. 2003. Pendidikan Seks untuk Remaja. Jakarta : Kawan Pustidaka

5. http://www.edubenchmark.com/pendidikan-seks-pada-anak-dan-remaja.html

6. http://mitraaksi.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=15&Itemid=28


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar